PBV dan Laznas ASAR Humanity Perkuat Respons Kemanusiaan bagi Masyarakat Terdampak Bencana di NTT

Asar Humanity

14 Sep 2026 10:57

PBV dan Laznas ASAR Humanity Perkuat Respons Kemanusiaan bagi Masyarakat Terdampak Bencana di NTT

Nusa Tenggara Timur, 10 September 2026 — Peace Boat Disaster Relief (PBV) bersama Laznas ASAR Humanity terus memperkuat respons kemanusiaan bagi masyarakat terdampak gempa dan tsunami di Nusa Tenggara Timur. Sejak 24 Agustus hingga 6 September 2026, tim relawan menyalurkan bantuan secara langsung kepada masyarakat di sejumlah wilayah terdampak di Kabupaten Nagekeo dan Manggarai Timur.

Respons kemanusiaan ini difokuskan pada pemenuhan kebutuhan dasar masyarakat yang masih menghadapi dampak bencana, mulai dari keterbatasan akses terhadap air bersih dan air minum, kebutuhan pangan, hingga kebutuhan kebersihan keluarga.

Di Kabupaten Nagekeo, bantuan menjangkau sejumlah desa di Kecamatan Aesesa, antara lain Maropokot, Danga, Ngolombai, Waekokak, Nggolonio, dan Nangadhero. Sementara di Kabupaten Manggarai Timur, tim menjangkau masyarakat di wilayah Sambi Rampas, termasuk Nangambaling, Nangambaur, Pota, serta Nanga Rema di Desa Nanga Baras.

Salah satu kebutuhan yang paling banyak ditemukan di lapangan adalah akses terhadap air bersih. Kerusakan infrastruktur dan sumber air pascabencana membuat sejumlah keluarga kesulitan memperoleh air untuk kebutuhan sehari-hari, seperti minum, memasak, mencuci, dan menjaga kebersihan. Di Nangadhero, misalnya, sumur publik yang biasa digunakan masyarakat terdampak kontaminasi air laut sehingga tidak lagi dapat menjadi sumber air yang diandalkan.

Kondisi tersebut semakin berat bagi masyarakat yang masih tinggal di hunian sementara. Di Waekokak, sejumlah keluarga masih bertahan di tenda dan tempat perlindungan mandiri karena belum dapat kembali ke rumah. Tim relawan mendistribusikan air minum langsung ke sejumlah titik pengungsian, termasuk tempat pengungsian mandiri dan masjid yang digunakan sebagai tempat berlindung oleh warga terdampak.

Selain air bersih, bantuan air minum siap konsumsi juga diberikan kepada masyarakat yang masih menghadapi keterbatasan fasilitas rumah tangga. Di sejumlah wilayah, keluarga terdampak harus menggunakan kayu bakar untuk merebus air sebelum dikonsumsi. Distribusi air minum siap konsumsi membantu mengurangi beban tersebut sekaligus memastikan masyarakat memperoleh akses terhadap air yang aman untuk diminum.

“Kami melihat bahwa kebutuhan masyarakat terdampak bencana di Nusa Tenggara Timur masih sangat nyata, khususnya terkait akses terhadap air bersih, air minum, pangan, dan kebutuhan dasar lainnya. Karena itu, respons kemanusiaan perlu terus dilakukan berdasarkan kondisi dan kebutuhan yang ditemukan langsung di lapangan.

Melalui kolaborasi bersama PBV, ASAR Humanity berupaya memastikan bantuan dapat menjangkau masyarakat yang masih menghadapi keterbatasan akses, termasuk mereka yang tinggal di hunian sementara dan wilayah yang cukup sulit dijangkau. Kami berharap bantuan ini dapat meringankan beban masyarakat sekaligus menjadi bagian dari proses pemulihan mereka setelah bencana,” ujar Noval Eriansyah, Ketua Yayasan ASAR Humanity.

Dari sisi Peace Boat Disaster Relief (PBV), respons di Nusa Tenggara Timur juga menjadi bagian dari upaya memastikan bantuan kemanusiaan dapat diberikan secara tepat berdasarkan kebutuhan masyarakat di lapangan.

“Dalam situasi pascabencana, kebutuhan masyarakat dapat terus berubah seiring dengan kondisi di lapangan. Karena itu, penting bagi respons kemanusiaan untuk dilakukan secara langsung, mendengarkan kebutuhan masyarakat, serta memastikan bantuan menjangkau mereka yang masih menghadapi keterbatasan akses. Kolaborasi dengan Laznas ASAR Humanity menjadi bagian penting dalam memperkuat jangkauan respons dan mendukung masyarakat dalam proses pemulihan,” ujar perwakilan Peace Boat Disaster Relief (PBV).

Respons kemanusiaan juga mencakup distribusi bantuan pangan. Di wilayah Pota, sebanyak 270 paket pangan disalurkan kepada keluarga terdampak untuk membantu memenuhi kebutuhan pangan sehari-hari. Bantuan pangan juga diberikan kepada keluarga yang masih tinggal di hunian sementara di Nangambaling dan Nanga Rema. Di Nangambaling, kondisi masyarakat turut terdampak oleh kerusakan sistem irigasi yang mengganggu aktivitas pertanian.

Upaya menjangkau masyarakat juga dilakukan hingga ke wilayah dengan tantangan geografis. Di Nanga Rema, Nanga Baras, tim harus menyeberangi sungai dengan kondisi air yang rendah untuk mencapai komunitas yang berada di lokasi terpencil. Langkah ini dilakukan untuk memastikan masyarakat yang tinggal jauh dari akses jalan utama maupun titik bantuan tetap mendapatkan dukungan kemanusiaan.

Bencana juga memberikan dampak terhadap mata pencaharian masyarakat. Di Maropokot dan sejumlah wilayah pesisir lainnya, banyak keluarga yang menggantungkan penghasilan dari aktivitas melaut masih menghadapi trauma dan kekhawatiran setelah tsunami. Kondisi tersebut turut memengaruhi kemampuan keluarga untuk kembali menjalankan aktivitas ekonomi seperti sebelumnya.

Melalui kolaborasi ini, Peace Boat Disaster Relief (PBV) dan Laznas ASAR Humanity berupaya memastikan respons kemanusiaan tidak berhenti pada penyaluran bantuan, tetapi juga dilakukan melalui pemantauan kondisi masyarakat secara langsung. Distribusi berulang dilakukan di sejumlah wilayah untuk menjangkau keluarga yang sebelumnya belum mendapatkan bantuan serta masyarakat yang masih menghadapi keterbatasan akses.

Bagi masyarakat terdampak, bantuan tersebut bukan sekadar pemenuhan kebutuhan sehari-hari. Akses terhadap air bersih, pangan, dan kebutuhan kebersihan merupakan bagian penting dalam membantu keluarga menjaga kesehatan, kebersihan, dan martabat mereka selama melewati masa pemulihan.

Kolaborasi PBV dan Laznas ASAR Humanity menjadi bagian dari upaya bersama untuk menghadirkan respons kemanusiaan yang adaptif, berbasis kebutuhan masyarakat, serta menjangkau kelompok terdampak hingga ke wilayah yang sulit diakses.

Peace Boat Disaster Relief (PBV) dan Laznas ASAR Humanity akan terus berupaya hadir bersama masyarakat terdampak dan mendukung pemenuhan kebutuhan dasar selama proses pemulihan pascabencana di Nusa Tenggara Timur.