ASAR Humanity Salurkan Bantuan Pangan bagi Korban Kebakaran di Kampung Adat Sirnaresmi, Sukabumi

Asar Humanity

06 Agt 2026 17:22

ASAR Humanity Salurkan Bantuan Pangan bagi Korban Kebakaran di Kampung Adat Sirnaresmi, Sukabumi

ASAR Humanity Salurkan Bantuan Pangan bagi Korban Kebakaran di Kampung Adat Sirnaresmi, Sukabumi

Sukabumi, Jawa Barat – LAZNAS ASAR Humanity menyalurkan bantuan berupa 900 porsi makanan siap saji kepada warga terdampak kebakaran di Kampung Adat Sirnaresmi, Kecamatan Cisolok, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat. Bantuan didistribusikan selama tiga hari, pada 28–30 Juli 2026, sebagai respons cepat untuk memenuhi kebutuhan pangan masyarakat yang terdampak bencana.

Kebakaran yang terjadi pada Sabtu, 25 Juli 2026, sekitar pukul 14.00 WIB, menghanguskan puluhan rumah warga di kawasan permukiman adat. Selain merusak tempat tinggal, musibah tersebut juga berdampak pada lumbung-lumbung padi milik masyarakat yang menjadi bagian penting dari kehidupan dan budaya warga Kampung Adat Sirnaresmi.

Ketua Yayasan ASAR Humanity, Noval Eriansyah, mengatakan bahwa pemenuhan kebutuhan pangan merupakan langkah awal yang harus segera dilakukan dalam fase tanggap darurat agar masyarakat dapat bertahan sambil memulai proses pemulihan.

"Bencana bukan hanya menghilangkan tempat tinggal, tetapi juga mengganggu rasa aman dan keberlangsungan hidup masyarakat. Karena itu, ASAR Humanity bergerak cepat menyalurkan bantuan makanan siap saji agar kebutuhan dasar warga dapat segera terpenuhi. Kami berharap kehadiran bantuan ini dapat meringankan beban para penyintas sekaligus menjadi bentuk kepedulian dari masyarakat Indonesia kepada saudara-saudara kita di Sirnaresmi. Ke depan, kami juga berkomitmen untuk mendukung proses pemulihan melalui kolaborasi dengan berbagai pihak sesuai kebutuhan yang berkembang di lapangan," ujar Noval Eriansyah.

Sekretaris Desa Sirnaresmi, Filka Mandala, menjelaskan bahwa kebakaran terjadi sangat cepat karena sebagian besar bangunan di kampung adat menggunakan material tradisional yang mudah terbakar.

"Kebakaran terjadi pada hari Sabtu, 25 Juli 2026 sekitar pukul 14.00 WIB. Masyarakat kami merupakan masyarakat adat yang sebagian besar bermata pencaharian sebagai petani dan pencari kayu bakar. Kondisi rumah didominasi material kayu dengan atap ijuk dan rumbia sehingga ketika api muncul, penyebarannya berlangsung sangat cepat," jelas Filka.

Ia menyebutkan, sebanyak 51 rumah milik 52 kepala keluarga terdampak kebakaran dengan total 160 jiwa. Sebagian warga saat ini masih tinggal di tenda pengungsian, sementara lainnya mengungsi ke rumah kerabat.

Menurut Filka, kebutuhan dasar masyarakat saat ini relatif telah terpenuhi berkat berbagai bantuan yang datang dari berbagai pihak. Namun, masih terdapat sejumlah kebutuhan yang mendesak untuk mendukung proses pemulihan.

"Alhamdulillah, setelah distribusi berbagai bantuan logistik, kebutuhan dasar masyarakat sudah cukup terpenuhi. Namun masih dibutuhkan pakaian, khususnya pakaian dalam, perlengkapan sekolah anak-anak, serta tempat penyimpanan barang seperti lemari pakaian dan lemari piring," katanya.

Lebih dari sekadar kehilangan rumah, masyarakat adat Sirnaresmi juga kehilangan aset penting yang menjadi simbol ketahanan pangan keluarga. Dalam kebakaran tersebut, 49 leuit atau lumbung padi tradisional ikut hangus terbakar.

"Di kampung adat kami, setiap keluarga yang sudah menikah wajib memiliki leuit. Lumbung padi ini bukan untuk diperjualbelikan, tetapi sebagai cadangan pangan yang dikonsumsi keluarga. Selain menjadi penyangga ketahanan pangan, leuit juga merupakan identitas budaya masyarakat adat kami. Harapan masyarakat tentu bisa kembali pulih dan membangun kehidupan seperti semula," tambah Filka.

Selama pelaksanaan respons kemanusiaan, tim ASAR Humanity melakukan asesmen kebutuhan, koordinasi dengan pemerintah desa dan tokoh masyarakat, menyiapkan bantuan, serta mendistribusikan 900 porsi makanan siap saji kepada masyarakat terdampak.

Melalui respons kemanusiaan ini, LAZNAS ASAR Humanity mengajak seluruh elemen masyarakat untuk terus memperkuat semangat gotong royong dalam membantu para penyintas bencana agar proses pemulihan dapat berlangsung lebih cepat dan masyarakat dapat kembali menjalani kehidupan secara mandiri dan bermartabat.