WNI dalam Misi Kemanusiaan Gaza Ditangkap Israel, Aktivis dan Wartawan Indonesia Jadi Korban Pembajakan Kapal

Asar Humanity

19 Mei 2026 15:30

WNI dalam Misi Kemanusiaan Gaza Ditangkap Israel, Aktivis dan Wartawan Indonesia Jadi Korban Pembajakan Kapal

ASARNews - Konflik kemanusiaan di Palestina kembali memanas. Dalam keterangannya dari Istanbul, Turki, Ketua Global Peace Convoy Indonesia (GPCI), Maimon Herawati menyampaikan bahwa hingga saat ini terdapat 27 kapal misi kemanusiaan yang dibajak oleh Israel di perairan internasional.

Dari puluhan kapal tersebut, terdapat tiga kapal yang membawa lima warga negara Indonesia (WNI) yang kini telah terkonfirmasi ditangkap oleh pihak Israel saat menjalankan misi kemanusiaan menuju Gaza.

Lima WNI tersebut terdiri dari satu aktivis kemanusiaan dan empat wartawan Indonesia.

Mereka adalah:

  1. Andi Angga Prasadewa — Aktivis kemanusiaan dari GPCI yang berada di Kapal Josef.

  2. Bambang Noroyono — Wartawan Republika di Kapal BoraLize.

  3. Thoudy Badai Rifan Billah — Wartawan Republika di Kapal Ozgurluk.

  4. Andre Prasetyo Nugroho — Wartawan Tempo di Kapal Ozgurluk.

  5. Rahendro Herubowo — Jurnalis yang tergabung dalam misi dokumentasi kemanusiaan di Kapal Ozgurluk.

    screenshot-2026-05-19-085651.png

Menurut Maimon Herawati, tim Global Sumud Flotilla sebenarnya telah mempersiapkan berbagai kemungkinan sejak awal keberangkatan misi kemanusiaan ini. Saat ini, telah dibentuk lima tim darat yang berada di Istanbul, Cyprus, Mesir, Yordania, dan Asdhod untuk memberikan bantuan hukum serta pendampingan apabila para relawan dibawa ke wilayah tersebut.

“Yang paling penting adalah mohon doa dari seluruh bangsa Indonesia untuk keselamatan saudara-saudara kita yang diculik,” ungkapnya.

Ia juga menegaskan bahwa yang terjadi saat ini bukan sekadar blokade fisik terhadap Gaza, tetapi juga “blokade narasi”, yakni upaya membungkam informasi dan membunuh suara-suara jurnalis agar dunia tidak lagi mengetahui kondisi nyata di Palestina.

Serangan Terang-Terangan Jadi Bukti Genosida Masih Berlangsung

Sementara itu, relawan kemanusiaan dari Gaza, Hussen Gaza menjelaskan bahwa penyerangan kali ini terjadi pada siang hari, berbeda dari pola sebelumnya yang selama dua tahun terakhir kerap dilakukan pada malam hari.

Hal ini dinilai sebagai bentuk tindakan yang semakin terang-terangan dilakukan Israel terhadap misi kemanusiaan internasional.

Di sisi lain, jalur bantuan darat menuju Gaza juga masih tertahan. Saat ini sekitar 250 relawan internasional sedang berupaya mendobrak blokade melalui jalur darat, termasuk enam warga negara Indonesia yang ikut dalam misi tersebut.

Hussen Gaza menyebut bahwa ini merupakan pertama kalinya dalam 16 tahun terakhir terdapat kembali warga Indonesia yang ditangkap langsung oleh Israel.

“Kami berharap para influencer, insan media, dan seluruh masyarakat terus mengawal isu ini. Fokus kita adalah blokade Gaza yang sampai hari ini belum dibuka, padahal katanya sudah ada gencatan senjata,” jelasnya.

Ia juga menyoroti kondisi di lapangan yang dinilai bertolak belakang dengan isi perjanjian gencatan senjata. Dalam kesepakatan tersebut disebutkan bahwa pasukan IDF akan mundur dari Gaza. Namun faktanya, saat perjanjian ditandatangani Israel menguasai sekitar 52 persen wilayah Gaza, dan kini disebut telah menguasai hingga 64 persen wilayah Palestina di Gaza.

Menurutnya, kondisi ini merupakan bentuk perampasan wilayah Gaza yang dilakukan secara perlahan.

Empat WNI Masih Terus Berlayar Membawa Misi Kemanusiaan

Di tengah situasi yang semakin menegangkan, masih terdapat empat warga negara Indonesia yang terus melanjutkan pelayaran membawa misi kemanusiaan untuk Palestina, yaitu:

  1. Herman Budiyanto Sudarsono (Aktivis Kemanusiaan) — Kapal Zapyro

  2. Ronggo Wirasanu  (Aktivis Kemanusiaan) — Kapal Zapyro  

  3. Hendro Prasetyo  (Aktivis Kemanusiaan) — Kapal Kasr-1

  4. ASAD Aras Muhammad  (Aktivis Kemanusiaan) — Kapal Kasr-1

Mereka tetap melanjutkan perjalanan di tengah ancaman besar demi membawa bantuan kemanusiaan dan membuka blokade terhadap rakyat Gaza.

Selamanya Jaga Palestina

Tragedi ini menjadi pengingat bahwa penderitaan rakyat Palestina belum berakhir. Ketika bantuan kemanusiaan dihalangi, jurnalis dibungkam, dan relawan kemanusiaan ditangkap, maka solidaritas dunia tidak boleh padam.

Mari terus bersuara, mengawal isu Palestina, dan menghadirkan kepedulian nyata bagi saudara-saudara kita di Gaza.

Karena Palestina tidak hanya membutuhkan bantuan hari ini, tetapi juga membutuhkan dunia yang terus peduli.

SELAMANYA JAGA PALESTINA.