Terjadi Perang Saudara di Myanmar, Para Biksu Turun Tangan Hadapi Militer

Asar Humanity

24 Jan 2024 21:11

Share

Terjadi Perang Saudara di Myanmar, Para Biksu Turun Tangan Hadapi Militer

AsarNews, Burma - Beberapa konflik perang akhir-akhir ini pecah di berbagai penjuru dunia. Tak hanya yang bersifat antar negara seperti Rusia-Ukraina atau Armenia-Azerbaijan, konfrontasi bersenjata juga melibatkan dua pihak di dalam negeri yang memicu perang saudara tetangga Republik Indonesia.

Kondisi seperti ini dialami Myanmar. Tetangga Indonesia ini berada dalam perang saudara sejak junta militer pimpinan Min Aung Hlaing mengkudeta pemerintahan sipil pada Februari 2021. Hingga saat ini, perlawanan dari milisi-milisi anti junta terus berlanjut.

Terbaru, perang ini akhirnya menyeret kelompok biksu agama Buddha. Pada Selasa (23/1/2024), ratusan orang berdiri di alun-alun kecil Pyin Oo Lwin, sebuah kota perbukitan yang populer di Myanmar, untuk mendengar seorang biksu populer yang memberikan saran yang mengejutkan.

"Min Aung Hlaing harus minggir dan membiarkan wakilnya Jenderal Soe Win mengambil alih," kata biksu ultra-kanan bernama Pauk Ko Taw itu, dikutip BBC.

Pauk sendiri hingga saat ini masih setia mendukung junta militer. Namun serangkaian kekalahan telak yang diderita tentara di tangan milisi etnis dalam beberapa pekan terakhir telah mendorong pendukung Min Aung Hlaing untuk mempertimbangkan kembali.

"Lihat wajah Soe Win. Itu wajah prajurit sungguhan. Min Aung Hlaing tidak bisa mengatasinya. Seharusnya ia beralih ke peran sipil," tambah Pauk.

Tidak jelas dukungan seperti apa yang dimiliki Pauk Ko Taw di angkatan bersenjata. Namun komentarnya senada dengan komentar para pendukung junta lainnya, yang semakin frustasi dengan ketidakmampuan para pemimpin militer Myanmar untuk membalikkan keadaan terhadap lawan-lawan mereka.

Di sisi lain, pemilihan Pyin Oo Lwin sebagai tempat pidatonya mendorong Ming untuk mundur juga menambah bobot ketegasan permintaannya. Kota itu dulunya merupakan bekas koloni Inggris ini kini menjadi lokasi Akademi Layanan Pertahanan elit, tempat para petinggi angkatan darat dilatih.

Hubungan antara militer dan kebhikkhuan bukanlah hal baru. Para biksu Burma memiliki tradisi politik yang panjang, seringkali aktivisme anti-otoritarian, mulai dari gerakan anti-kolonial pada tahun 1930-an hingga pemberontakan melawan kekuasaan militer pada tahun 1988 dan 2007.

Banyak yang menentang kudeta tahun 2021, beberapa di antara mereka menanggalkan jubah mereka dan mengangkat senjata melawan kudeta. Namun beberapa di antara mereka telah bekerja sama dengan para jenderal, berbagi keyakinan yang sama bahwa baik Buddha maupun budaya perlu dilindungi dari pengaruh luar.

Menyusul bentrokan kekerasan antara warga Budha dan Muslim Rohingya di Negara Bagian Rakhine pada tahun 2012, seorang biksu militan, Wirathu, membantu mendirikan sebuah gerakan yang dikenal sebagai Ma Ba Tha, atau Asosiasi Perlindungan Ras dan Agama.

Hal ini mendorong boikot terhadap bisnis-bisnis milik Muslim, dengan mengklaim bahwa agama Buddha di Burma berada dalam bahaya dari umat Islam. Namun jumlah mereka hanya 8% dari populasi Myanmar.

Gerakan ini secara resmi dibubarkan pada tahun 2017. Walau begitu, Ma Ba Tha tetap mendapat dukungan militer.

Wirathu, yang sebelumnya dipenjara karena menghasut konflik rasial, kembali dipenjara pada tahun 2020. Namun kurang dari setahun kemudian dia dibebaskan oleh militer dan Min Aung Hlaing menghujaninya dengan penghargaan dan uang.

Kudeta Min Aung Hlaing pada bulan Februari 2021 memicu reaksi publik yang besar, dengan demonstrasi besar-besaran yang menolaknya, yang kemudian dibubarkan secara brutal.

Jenderal berusia 67 tahun itu saat ini masih berupaya memperkuat legitimasinya dengan menampilkan dirinya sebagai tokoh agama Buddha. Media pemerintah terus-menerus melaporkan yang menunjukkan diktator itu melimpahkan hadiah di kuil-kuil, dan mengangkat jenazah di kepala biara.

Badan keagamaan tertinggi Myanmar, dewan pemerintahan Buddha atau Sangha Negara, tidak banyak bicara secara terbuka tentang kudeta tersebut. Beberapa anggotanya diyakini diam-diam mendesak agar para jenderal menahan diri.

Walau begitu, salah satu biksu senior di Sangha, Sitagu Sayadaw, secara terbuka mendukung militer, dan bahkan melakukan perjalanan bersama Min Aung Hlaing dalam perjalanan pembelian senjata ke Rusia.