Asar Humanity
24 Aug 2026 16:54
Di Tengah Pengungsian, Nizam Rindu Sekolah dan Ingin Kembali Bermain Bola
Manggarai, Nusa Tenggara Timur, 24 Agustus 2026 – Sudah lebih dari sepekan Nizam, 11 tahun, siswa kelas 5 Madrasah Ibtidaiyah Negeri (MIN) 1 Manggarai, Nusa Tenggara Timur, tidur di posko pengungsian bersama sang kakek. Sejak gempa yang mengguncang NTT pada Sabtu, 15 Agustus 2026, rumah dan sekolah yang menjadi bagian dari kesehariannya kini tidak lagi seperti sebelumnya.
Saat gempa terjadi, Nizam berada di rumah bersama kakeknya. Guncangan kuat membuat perabotan di dalam rumah bergeser dan sang kakek nyaris tertimpa lemari. Sejak saat itu, keduanya memilih bertahan di posko pengungsian bersama warga lainnya.
Hingga Senin, 24 Agustus 2026, Nizam masih tidur di posko. Keterbatasan kondisi membuat kebutuhan sehari-hari harus dijalani dengan sederhana. Pada malam hari, udara dingin juga menjadi tantangan tersendiri bagi Nizam. Kondisi tersebut membuat tubuhnya tidak nyaman hingga pada pagi harinya ia sempat mengalami sakit dan muntah-muntah.

Namun, di tengah situasi tersebut, ada satu hal yang terus dirindukan Nizam: sekolah.
Bangunan sekolahnya terdampak gempa, sementara perlengkapan belajarnya ikut tertimbun reruntuhan. Buku, seragam, tas, hingga perlengkapan sekolah lainnya kini tidak lagi dapat digunakan.
Bagi Nizam, kehilangan perlengkapan sekolah bukan sekadar kehilangan benda. Ada rutinitas yang terhenti, ada ruang belajar yang dirindukan, juga ada teman-teman yang ingin kembali ditemuinya.
Ia berharap dapat kembali belajar ketika kondisi memungkinkan. Ia juga ingin kembali mengenakan perlengkapan sekolah dengan lengkap, termasuk sepatu.
Sepatu terakhir yang dimiliki Nizam dibeli sekitar tiga tahun lalu. Kondisinya kini sudah rusak, bahkan sebelum gempa terjadi. Setelah bencana, kebutuhan untuk kembali bersekolah menjadi semakin sulit karena perlengkapan yang tersisa tidak lagi memadai.
Meski demikian, keinginan Nizam sederhana.
Ia ingin kembali belajar. Dan ia ingin kembali bermain bola bersama teman-temannya.

Kisah Nizam menjadi pengingat bahwa di tengah bencana, anak-anak tidak hanya membutuhkan makanan, air bersih, tempat berlindung, dan perlindungan. Mereka juga membutuhkan kesempatan untuk kembali menjadi anak-anak: belajar, bermain, bermimpi, dan melanjutkan pendidikan.
Melalui Program Penjuru Negeri, Laznas ASAR Humanity berkomitmen menghadirkan dukungan pendidikan bagi anak-anak di berbagai wilayah Indonesia, termasuk mereka yang terdampak situasi darurat. Salah satunya melalui #LangkahAnakNegeri, subcampaign yang berfokus pada pemenuhan kebutuhan alas kaki bagi anak-anak di penjuru negeri.
Sepatu mungkin terlihat sederhana. Namun bagi anak seperti Nizam, sepasang sepatu dapat menjadi bagian dari langkah untuk kembali ke sekolah, kembali bertemu teman-teman, dan kembali mengejar cita-cita.

Mari hadirkan langkah baru untuk Nizam dan anak-anak lainnya di penjuru negeri.
Melalui gerakan #LangkahAnakNegeri, masyarakat dapat ikut menghadiahkan sepatu untuk anak-anak yang membutuhkan agar mereka dapat kembali melangkah menuju sekolah dan mengejar mimpi-mimpinya.
Hadiahkan Sepatu untuk Anak-Anak Penjuru Negeri
Satu pasang sepatu mungkin sederhana. Tetapi bagi seorang anak, ia bisa menjadi langkah menuju masa depan.
#LangkahAnakNegeri #PenjuruNegeri #ASARHumanity #GempaNTT #PendidikanUntukAnak
Dapur Umum ASAR Humanity Hadirkan Makanan Hangat untuk Warga Terdampak Gempa Manggarai Timur
Diposting pada 22 August 2026
Sumur Air Bersih ASAR Humanity Hadir untuk 230 Keluarga Pengungsi di Gaza Utara
Diposting pada 22 August 2026
Kalimantan Diselimuti Kabut Asap Pekat, Kebakaran Hutan dan Lahan Kian Mengancam Pemukiman
Diposting pada 22 August 2026
ASAR Humanity Hadirkan Dapur Umum, Air Bersih, dan Selimut untuk Penyintas Gempa NTT
Diposting pada 20 August 2026