Asar Humanity

15 Nov 2023 10:15

Share

Hujan Pertama Turun di Gaza, Antara Sukacita dan Tantangan Baru

AsarNews, Gaza - Hujan lebat akhirnya turun di Gaza pada Selasa (14/11/2023), setelah lebih dari satu bulan mengalami kesulitan air karena blokade Israel. Hujan pertama di Gaza itu disambut dengan penuh syukur oleh warga Gaza.

Dalam sebuah video di jagat maya, seorang anak laki-laki bergegas menampung air hujan ke dalam ember. Ia bersyukur dengan turunnya hujan.

Di rekaman video lainnya, tampak tak hanya menampung air hujan, beberapa anak-anak gaza menari-nari kecil di tengah hujan. Mereka merayakan dimulainya musim hujan.

Hujan deras di Gaza yang terjadi setelah konflik panjang selama enam minggu, telah membawa kekhawatiran dan tantangan baru bagi jutaan pengungsi warga Palestina yang kehilangan rumah, mereka yang terpaksa tinggal di tenda-tenda tipis dan lainnya yang mengungsi ke selatan untuk menghindari pemboman militer Israel.

Awal musim hujan dan kemungkinan banjir telah meningkatkan kekhawatiran bahwa sistem pembuangan limbah yang rusak di daerah kantong tersebut akan kewalahan dan menyebarkan penyakit.

343K24D-highres-1699984252
“Kami sangat prihatin. Kita sudah mengalami wabah penyakit diare. Kami telah mencatat lebih dari 30.000 kasus, padahal biasanya kami memperkirakan 2.000 kasus pada periode yang sama,” kata Margaret Harris, juru bicara Organisasi Kesehatan Dunia (WHO).

Dewan Pengungsi Norwegia mengatakan awal musim hujan bisa menandai “minggu tersulit di Gaza” sejak konflik dimulai.

Badan-badan bantuan lainnya mengatakan upaya memenuhi kebutuhan sehari-hari warga Palestina berarti mereka tidak mampu membuat rencana ke depan terhadap potensi banjir.

WHO menyuarakan keprihatinan mengenai kemungkinan hujan yang akan menyebabkan banjir dan fasilitas pembuangan limbah yang sudah terbatas dan rusak. “Kita sudah mengalami wabah penyakit diare,” kata juru bicara WHO, Margaret Harris di Jenewa.

Harris mengatakan, ada lebih dari 30.000 kasus diare pada periode dimana WHO biasanya memperkirakan 2.000 kasus. “Kami mengalami banyak kerusakan infrastruktur. Kami kekurangan air bersih. Kami mempunyai orang-orang yang berkumpul bersama dengan padat. Ini adalah alasan lain mengapa kami memohon agar gencatan senjata dilakukan sekarang,” katanya.

Juru bicara Dewan Pengungsi Norwegia, Ahmed Bayram mengatakan, awal musim hujan bisa menandai minggu tersulit di Gaza sejak eskalasi pengeboman dimulai pada 7 Oktober. Menurutnya, hujan lebat akan menghambat pergerakan masyarakat dan tim penyelamat.

"Ini akan membuat lebih sulit untuk menyelamatkan orang-orang yang terjebak di bawah reruntuhan, atau menguburkan orang mati, semua ini terjadi di tengah pengeboman yang tak henti-hentinya dan bencana kekurangan bahan bakar," ujar Bayram.